Default News2 1080x500

MELALUI PROGRAM PMO, MENTERI TETEN MASDUKI
YAKINI UMKM BAKAL NAIK KELAS

INDUSTRY.co.id – Jakarta-Kementerian Koperasi dan UKM terus berupaya meningkatkan kinerja UMKM di Indonesia untuk naik kelas. Dan salah satunya melalui program project management officer (PMO) lintas sektoral, lintas kementerian, program ini untuk mengkonsolidasikan kemitraan usaha besar dan UMKM.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat menerima kunjungan Ketua Dewan Pertimbangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi dan anggota Apindo Sudhamek di ruang kerja Kementerian Koperasi dan UKM, Kamis (16/1/2020).

Ia mengatakan melalui program PMO tersebut terbagi dua yaitu pertama, peningkatan kapasitas usaha, nanti ada kerja sama dengan pihak akademisi seperti Prasetya Mulya serta nanti ada vokasi untuk dampingi pelaku usaha UMKM. Kedua, kemitraan langsung per sektor. Tadi diputuskan di skktor riil, orientasi ekspor dan subtitusi mislanya di petani karet, jagung itu yang sudah siap.

“PMO akan diusulkan minggu depan konsepnya ke Kementerian Koordinator Perekonomian. Dan beberapa yang quick win sudah bisa kita lakukan. Action di Februari sudah mulai aksi yang akan dijalankan. Target koperasi dan UKM yang dilibatkan kami belum bisa tahu, karena masih hitung,” ujarnya

Begitu pun dengan Koperasi yang mau naik kelas berapa, melibatkan kemitraan degan koperasi di luar negeri. Belajar dari koperasi yang sudah maju konkret. Koperasi susu yang sukses di luar misalnya New Zealand, sektor agriculture misalnya di Belanda, membantu koperasi agriculture di Indonesia akan diteruskan. Perbaikan packaging serta brand.

“Misalnya yang sudah saya lihat koperasi susu GKSI, masih sangat sehat dan beromzet tinggi. Sudah bicara dengan Menpan terkait kebutuhan perbaikan kapasitas. Sudah diskusi dengan konsultan Belanda. Di mana koperasi harus punya pengolahan sendiri tetapi tak bergantung hanya pada pabrik milik orang lain,”ungkapnya

Lanjutnya, Koperasi GKSI punya anggota itu peternak-peternak susu kecil, sekarang 3 juta botol produksi per bulan susu Milkuat. Mereka juga punya industri pengolahan. Baru 20 persen susu untuk memenuhi kebutuhan nasional sedangan 80 persen susu impor.

“Koperasi seperti inilah yang mau kita dampingi dan besarkan,” harapannya

Target UMKM naik kelas, sekarang usaha kecil sekitar 700 ribu, usaha besar 60 ribu. Kalau 10.persen saja sudah luar biasa. Tapi kita pakai target pertumbuhan ekonomilah, target 6 persen, kira-kira sesuai target pertumbuhan ekonomi tahun inilah.

Karena usaha mikro yang hampir 99 persen ini kebanyakan lebih survive yang penting kita urus punya modal kerja. Yang kita seleksi dari kecil ke menengah, menengah ke besar. Umumnya wirausaha itu 2 persen dari setiap negara. Sekarang yang besar cuma 5 ribu. Belum sampai 2 persen dari populasi. Sementara Malaysia, Thailand sudah di atas 2 persen,” tandasnya

Default News2 1080x500

KSPSI SINERGI DENGAN APINDO

APINDOKALTIM.COM – Upaya DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim membangun hubungan industrial yang harmonis dengan banyak pihak, mendapat apresiasi positif dari Dewan Pimpinan Cabang Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (DPC KSPSI) Kota Balikpapan.

“Kami mendukung langkah positif Apindo yang terus berkiprah dan berkontribusi positif dalam pembangunan di Kaltim khususnya Balikpapan, utamanya di sektor ketenagakerjaan,” kata Ketua DPC KSPSI Kota Balikpapan, Alfian Azahari, SH di kantornya, Rabu (29 Juli 2020).

Alfian yang juga Direktur Lembaga Bantuan Hukum Warga Jaya Indonesia (LBH WJI) Provinsi Kaltim ini mengungkapkan, kiprah Apindo Kaltim yang dipimpin Ketua M. Slamet Brotosiswoyo hingga periode ketiga ini, layak diacungi jempol.

Pertimbangannya, selama ini hubungan industrial baik itu di kelembagaan tripartit maupun tripartit di Kaltim khususnya Balikpapan, berjalan baik. Sehingga, nyaris tanpa konflik dan itu sangat berpengaruh positif bagi kondusif wilayah di daerah ini.

“Kaltim dan Balikpapan hingga saat ini masih jadi primadona investasi di Indonesia. Salah satu kuncinya ialah kondusifnya hubungan industrial. Tidak salah, kalau Kaltim akhirnya ditunjuk sebagai ibukota Negara (IKN),” ujarnya.

Meski begitu, organisasi serikat pekerja khususnya KSPSI, tegas Alfian, sangat berharap dukungan kuat dari Apindo, agar keberadaan serikat pekerja di perusahaan-perusahaan, tidak dipandang sebagai “momok” yang mengkhawatirkan kalangan pengusaha.

“Justru, kehadiran serikat pekerja akan sangat membantu pengusaha, khususnya menjadi jembatan komunikasi, dalam meningkatkan produktifitas pekerja dan kinerja perusahaan. Selain itu, serikat pekerja juga dapat jadi deteksi dini-jika ada persoalan di kalangan pekerja-sehingga segera dicarikan solusi terbaik-agar tidak memicu konflik yang lebih luas di perusahaan,” paparnya.