Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi berdampak langsung pada harga energi, biaya logistik, inflasi pangan, dan stabilitas nilai tukar.

Sekitar 20 persen minyak dunia melewati Selat Hormuz. Ketidakpastian di kawasan tersebut dapat mendorong kenaikan harga energi global. Bagi Indonesia sebagai net importer minyak, tekanan ini berisiko meningkatkan biaya produksi dan mempersempit ruang fiskal.

Dunia usaha perlu memperkuat efisiensi, manajemen risiko, dan pengelolaan eksposur valas untuk menjaga daya tahan di tengah volatilitas global.

Sumber: Apindo Nasional

Comments are disabled.